About

{getContent} $results={3} $label={Paid Blogger Template Download For Free} $type={grid}

Kegagalan awal dari keberhasilan


 Banyak orang berkata bahwa kegagalan adalah awal keberhasilan. Lalu kita bertanya, “Kegagalan seperti apa yang bisa menjadi awal dari keberhasilan itu?”
Suatu hari seekor landak bertemu dengan seekor rubah. Seperti biasanya, rubah selalu punya cara licik untuk menaklukan musuhnya. Namun landak pun dibekali Sang Pencipta senjata ampuh berupa duri-duri di tubuhnya untuk mempertahankan diri dari musuh. Sebelum bertarung landak berkata, ”Jika kali ini kamu berhasil menyakitiku, aku akan membencimu. Tapi jika di lain waktu kamu berhasil menyakitiku lagi, maka aku akan membenci dan menyalahkan diriku sendiri.”
Jika seekor landak bisa berkata seperti itu, mampukah manusia? Manusia makhluk terbaik yang diciptakan Allah SWT di muka bumi, ”Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kalian memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3]: 110). Kita pasti lebih mengerti untuk menyikapi hidup ini yang terkadang manis namun juga tak jarang pahit. Kegagalan bukan cela, namun yang patut dicela adalah kegagalan beruntun dengan kesalahan yang sama.
Seorang anak kecil yang dimarahi ibunya karena asyik bermain di rumah temannya sehingga telat pulang ke rumah, pasti akan jera dan tidak melakukan kesalahan yang sama pada hari-hari berikutnya, kecuali jika anak tersebut benar-benar bandel dan tidak mendapat pendidikan yang baik dari orangtuanya. Atau seorang lulusan SMU yang gagal dalam UMPTN sedangkan dia memiliki keinginan yang kuat untuk duduk di bangku kuliah pasti akan mencari letak kesalahan yang menjadi penyebab kegagalan tersebut, lalu mencari solusi yang tepat untuk memperbaikinya.
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memberi kita sebuah kaidah untuk menjadi mukmin yang penuh kehati-hatian dalam menjalani hidup ini. Beliau bersabda, “Seorang mukmin adalah orang yang pandai, waspada dan cerdas.” Hadits ini bermakna agar seorang mukmin tanggap dalam setiap situasi yang sedang dihadapinya, dan juga harus cerdik menghadapi jebakan musuh. Musuh terbesar manusia adalah setan. Sebagai manusia biasa, kita pasti pernah berbuat salah. Dan kesalahan yang paling sering kita lakukan dan selalu kita anggap remeh adalah kita lupa bahwa kita diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya, ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).
Kita adalah hamba-Nya, namun kita sering lupa bahwa kita hanyalah seorang hamba.
Kita selalu menunda taubat karena menyangka bahwa hidup ini masih panjang. Padahal tak seorang pun tahu kapan Izrail akan mengetuk pintu rumah kita dan mengambil satu-satunya nyawa kita. Atau kita berkata, ”Nanti saja bertaubatnya, setelah pergi haji.” Atau, “Sekarang saya masih muda, saatnya senang-senang. Nanti jika saya sudah tua, saya akan bertaubat.”
Sikap seperti ini harus kita hindari karena hanya akan merugikan diri sendiri. Ibn Al-Jauzi dalam Talbis Iblis menulis bahwa setan tak memiliki senjata yang paling ampuh untuk menjerumuskan manusia ke dalam neraka selain mental taswif manusia, yaitu mental selalu menunda perbuatan.
Siapkah kita dilemparkan ke neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu? Di dalamnya terdapat malaikat yang keras, bengis dan tidak pernah melanggar perintah Allah. Siapapun tidak akan sanggup menanggung azab sepedih itu. Oleh karena itu, jika kemarin kita gagal menjadi seorang hamba yang baik, maka kegagalan itu tidak boleh terulang lagi hari ini dan esok hari. Kita harus segera bertaubat dan berjanji untuk tidak lagi mengulanginya agar kegagalan tersebut benar-benar menjadi awal keberhasilan kita. Wallahu a’lam.

0 $type={blogger}: