About

{getContent} $results={3} $label={Paid Blogger Template Download For Free} $type={grid}

PERANAN TENAGA PENDIDIKAN

DALAM PENINGKATAN KREATIVITAS SISWA
A. Pemahaman Kreativitas
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini dan dimasa yang akan datang sangat dibutuhkan sumber daya manusia terdidik, terampil, tangguh, dinamis, dan kreatif serta mampu berfikir kritis dalam menghadapi suatu persoalan.  Setiap individu perlu dan selalu meningkatkan kemampuan ketrampilan baik hal yang formal maupun yang nonformal agar tidak kalah bersaing dalam masyarakat yang semakin komplek sifatnya.
Kekayaan bangsa kita hasil dari kualitas otak penduduknya, kreativitas dan ketrampilannya. Aset terbaik  adalah kemampuan kolektif kita untuk belajar cepat dan beradaptasi secara cerdas terhadap situasi yang tidak bisa diramalkan.  Dalam kontek dunia pendidikan yang perlu menjadi prioritas utama kita adalah mengajar siswa bagaimana cara belajar dan bagaimana berfikir.
Belajar bukan hanya mengetahui jawaban-jawaban , juga bukan hanya mengetahui serpihan dan penggalan dari suatu batang tubuh pengetahuan . Belajar tidak diukur dengan dengan indek prestasi dan nilai ujian semata, belajar bukan hanya aktifitas menulis di atas  papan tulis apa yang diketahui orang lain. Belajar adalah petualangan seumur hidup, perjalanan eksplorasi tanpa akhir untuk menciptakan pemahaman personal kita sendiri . Petualangan itu haruslah melibatkan kemampuan untuk secara terus menerus menganalisis dan meningkatkan cara belajar serta berfikir (Rose : 2003)
Inovasi terwujud adanya kreativitas yang tinggi, dan kreativitas bukan hanya merupakan kemampuan untuk membawa sesuatu yang relatif baru dalam kehidupan tetapi juga harus memiliki peran penting. Seseorang harus menemukan jati diri, berbagai gagasan atau ide juga perlu ditemukan jika ingin menghasilkan sesuatu yang diinginkan, dan semua itu hanya mungkin jika otak sebagai markas besar daya pikir yang menghasilkan  ide untuk kreatif benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Anak didik adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah, orang tuanya yang memasukkan untuk dididik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan dikemudian hari.  Anak didik adalah organisme yang hidup memiliki suatu kebutuhan , minat kemampuan , intelek, kreativitas, dan masalah-masalah tertentu. Kepercayaan orang tua diterima guru dengan kesadaran dan penuh keikhlasan, maka jadilah guru sebagai pengemban tanggungjawab yang diserahkan itu (Djamarah : 2002)
Di sekolah kita harus menjamin agar siswa mampu belajar secara mandiri sehingga mereka bisa memanfaatkan peluang-peluang yang memikat dari alat-alat bantu belajar interaktif yang baru.Kendati demikian mereka juga harus bisa  bekerja secara bersama untuk mengatasi berbagai masalah , seperti masalah-masalah masyarakat yang nyata, yang melibatkan kepentingan mereka karena ada relevansinya dengan kehidupan mereka. Dengan cara yang demikian para siswa dapat mengembangkan ketrampilan dasar mereka dan   sekaligus belajar mengembangkan ketrampilan berfikir kreatif dan kritis.
Siswa atau anak-anak biasanya lebih kreatif dari pada orang dewasa, pikirannya masih mencari dan menemukan pola-pola perilaku, serta label mereka belum cukup kuat untuk membatasi cara berfikirnya. Seperti pandangan John Looke bahwa jiwa anak bagaikan tabula rasa, sebuah meja lilin yang dapat ditulis dengan apa saja sebagaimana keinginan si pendidik. Tidak ada bedanya dengan sehelai kertas putih yang dapat ditulis dengan tinta merah, hitam dan sebagainya. Sayangnya penekanan yang berlebihan pada satu jawaban benar di sekolah umumnya mulai membatasi kreativitas itu, maka jika paradigma yang muncul demikian tentu ada implikasinya.  Yang mendesak dan penting adalah kita perlu serta hurus melakukan perubahan, kita harus membantu siswa menciptakan suatu lingkungan yang kaya merangsang dan memotivasi pikiran kreatif. Upaya untuk menggalakkan kreatif siswa terus dan perlu dilakukan seperti terlihat dari aneka lomba khususnya yang ada di kalangan pemuda untuk meningkatkan apresiasi yang berkelanjutan pada pemahaman kreativitas. Oleh karena itu dirasakan perlu pula dikembangkan tidak hanya dikalangan para siswa tetapi juga untuk kalangan para tenaga pendidikan.
B. Berfikir Kreatif
Kita dapat merencanakan diri sebagai seorang yang kreatif, namun menjadi kreatif tidak hanya bisa dengan berpangku tangan menunggu ilham yang datang dan hal ini selalu menuntut banyak usaha keras dan mensyaratkan persiapan matang. Tentu saja motivasi sangat membantu, memperoleh pengetahuan latar belakang yang terinci tentang subyek yang dipelajari adalah kunci kreativitas karena hampir semua gagasan baru adalah kombinasi ulang berpikir dari ide-ide yang ada. Orang yang kreatif selalu lebih banyak mengetahui tentang subyeknya, suatu inspirasi akan muncul dari latar belakang pengetahuan yang ahli dan akan berpihak pada pikiran yang siap.
Dengan belajar dari orang berfikiran kreatif yang sukses kita kemungkinan dapat melacak dan menjejaki pola umum sikap dan metode kerja mereka. (Rose, 2003 ) Suatu kreativitas juga menuntut keberanian, jika kita mau melepaskan diri dari cara berpikir konvensional maka kita beresiko dan kita harus berani menghadapi resiko kegagalan, kecaman dan kritik dari orang lain. Sangatlah susah melepaskan diri kita dari berpikir konvensional, karena kita perlu menjadi seorang pilot otomatis hampir setiap saat. Hidup menjadi terlalu sulit jika setiap hari kita harus menyegarkan kembali ketrampilan bagaimana untuk mencukur, berpakaian, menyiapkan makan pagi dan bekerja. Pikiran memberi label aktivitas-aktivitas rutin menempatkan setiap kejadian yang sama  kedalam kategori yang sama pula, sehingga bila label tersebut sekali telah disematkan maka pemikiran menjadi kaku dan konvensional.
Menurut Sternberg (Rose, 2003 ) mengenai kreativitas ada tiga tahapan, yaitu:
  1. Pengertian, kita berfikir mendefinisikan masalah dengan seksama dan memisahkan data yang relevan dari yang tidak relevan, mana petunjuk penting dan mana yang tidak.
  2. Kombinasi, kita berfikir untuk mengkombinasikan kembali ide-ide dalam suatu cara yang baru, semua informasi diketahui lama terlebih dahulu. Kepiawaian adalah mensintesiskan ke dalam konsep yang baru, cara baru menggabungkan dan memadukan ide-ide lama.
  3. Membandingkan yang lama dengan yang baru, kita tidak akan melihat nilai dari gagasan baru jika kita tidak membandingkannya dengan yang lama. Ini memakan waktu untuk menuntut kesabaran, jadi menjadi seorang yang kreatif membutuhkan ketekunan.
Prinsip umum dalam setiap kreativitas adalah kombinasi atau penggabungan dari unsur-unsur lama dalam cara baru. Kesemua ini sangat mendorong, karena hal ini memperlihatkan ada pola umum dalam setiap kreativitas suatu struktur. Ini akan meletakkan kreativitas dalam jangkauan kita semua dan ikutilah rencana kita, maka kita dapat berpikir secara kratif, dan kreatif yang metodis.
Treffinger  membagi empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting bagi kehidupan seseorang :
  1. Belajar kreatif membantu seseorang atau siswa menjadi lebih berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dari upaya kita uintuk membantu para siswa agar mereka lebih mampu menangani dan mengarahkan belajar bagi dirinya sendiri. Dengan pesatnya perubahan ilmu pengatahuan dan teknologi kita tidak mungkin mengajarkan siswa sesuatu yang harus mereka tahu  untuk hari depan mereka, dan kitapun tidak hanya mengajarkan agar siswa dapat mengulang kembali ide-ide. Kita mengharap para siswa dapat belajar hal-hal yang berguna dan bermanfaat bagi dirinya sehingg mereka mampu dan siap menghadapi masalah-masalah pada waktu kita tidak bersama mereka.
  2. Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan. Dan yang timbul dimasa depan.  Masa yang kita hadapi era sembilan puluhan berbeda dengan era milenium seperti sekarang dan pada era selanjutnya.
  3. Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehidupan kita. Banyak pengalaman yang salah tentang orang-orang yang amat kreatif, mereka dikenal sebagai  orang yang pikirannya terganggu, bahkan merubah karer dan  kehidupan pribadi kita. Padahal belajar kreatif dapat menunjang kesehatan jiwa dan kesehatan raga kita.
  4. Belajar kreatif menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar . Terdapat gambaran yang salah tentang orang-orang yang amat kreatif, mereka dikenal sebagai orang yang terganggu pikirannya, hidup menyendiri, tidak bisa bergaul dan tidak bisa menangani tekanan hidup. Gambaran semacam ini dapat pula  kita temukan pada orang-orang yang tidak kreatif , padahal banyak orang kreatif menjadi terkenal, penuh semangat dan bahagia. Semangat mereka terhadap pekerjaannya serta terhadap gagasan-gagasannya dapat langsung kita saksikan, dan kesenangan mereka terhadap belajar kreatif dapat menular kepada kita.
Sedangkan menurut De Bono, kegunaan lain dari pemikiran adalah pemikiran kreatif berhubungan secara langsung dengan penambahan nilai, penciptaan nilai serta penemuan peluang. Untuk menemukan peluang kita membutuhkan pemikiran kreatif, membantu kita melihat konsekuensi dari tindakan kita serta untuk memberikan alternatif tindakan.  Disamping alasan-alasan tersebut berfikir kreatif memungkinkan timbulnya ide-ide baru, cara-cara baru, dan hasil-hasil baru yang dapat memberikan sumbangan berharga kepada perkembangan seseorang. Berdasarkan alasan di atas belajar dan berfikir kreatif harus merupakan segi yang penting dan mendasar bagi pendidikan siswa.
C. Strategi Peningkatan Kreatifitas Siswa.

1.Bagi Kepala Sekolah.
Proses pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekembangan kreatifitas. Meskipun bukan satu-satunya penentu lahirnya orang-orang yang kreatif, pendidikan merupakan faktor yang sangat penting sekali peranannya. Inti dari proses pendidikan itu adalah proses belajar yang melibatkan guru dan siswa, baik dalam setting persekolahan maupun di luar sekolah.
Komponen kepala sekolah sebagai EMASLIM yaitu sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, inovator, motivator (Mulyasa:2005) di sekolah merupakan faktor-faktor yang terkait dengan kreativitas kepala sekolah dalam memgelola sekolah yang menjadi tanggungjawabnya. Sebagai seorang educator atau pendidik, harus memiliki jiwa pendidik untuk merubah perilaku anak didik secara manusiawi. Mengubah perilaku siswa menjadi siswa yang disiplin, memilki kemauan belajar dan berkembang  hidup dalam keteraturan. Selain itu kepala sekolah sebagai pendidik harus bisa menumbuhkan kewibawaan sehingga siswa menghormati, dan menjadikan sebagai panutan sekaligus tak lupa bagaimana meningkatkan prestasi atau mutu anak didik.
Sebagai seorang manager, kepala sekolah harus mampu mengelola sumber daya manusia yang ada dan berusaha agar mereka berperan dalam program sekolah dan tidak sibuk dengan aktivitas yang lain. Sistem harus berjalan dengan baik seperti yang telah direncanakan, dalam hal ini harus mampu mendelagasikan tugas sesuai dengan visi dan misi yang tertuang dalam progaram perencanaan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
Sebagai ’administrator’ seorang kepala sekolah harus mampu mengadministrasikan keperluan sekolah dengan menggunakan sumber daya yang ada untuk keberhasilan program sekolah, serta dapat menterjemahkan program sekolah menjadi langkah-langkah bersifat operasional yang akan memproduksi hasil.
Kepala Sekolah dituntut untuk menjadi ’supervisor’ yaitu menjadi pembimbing, pengawas bagi guru, dan pegawai lainnya. Hal ini berarti kepala sekolah menjadi tempat bertanya bagi  semua komponen sekolah, dapat membimbing guru dalam proses belajar mengajar tanpa menjadikan guru merasa digurui.
Sebagai ’leader’ harus berusaha mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok morang untuk mencapai keberhasilan. Selain itu harus dapat sebagai mediator antar kelompok sekolah, mampu mengidentifikasi permasalahan yang ada dan mencari pemecahannya serta mengakomodasikan aspirasi dari  masing-masing komponen sekolah.
Kepala sekolah yang memiliki kemampuan sebagi ’inovator’ adalah kepala sekolah yang selalu mencari dan menemukan temuan-temuan baru, terobosan baru, atau metode-metode baru yang bermanfaat bagi peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu kepala sekolah harus memiliki kreativitas dan keinginan untuk mempelajari atau mengikuti perkembanmgan pengetahuan dan teknologi.
Kepala sekolah yang mampu menjadi ’motivator’ beratri ia dapat menggugah guru untuk selalu meningkatkan kualitas profesinya, dan memanfaatkan sumber daya yang ada dengan potensinya. Mampu menumbuhkan situasi yang mendukung keinginan untuk berprestasi, mengembangkan diri secara profesional, menciptakan sistem penghargaan dan hukuman yang menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Hal-hal tersebut dipercaya dapat menimbulkan akibat positif terhadap kepuasan kerja, yang sering menyebabkan peningkatan produktivitas seseorang secara keseluruhan. Kesempatan ini menuntut kreativitas yang tinggi dari kepala sekolah, jika sekolah itu akan berkembang menjadi sekolah yang baik.
2. Bagi Guru
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan pada anak didik di sekolah, dan guru orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya serta keilmuan yang dimilikinya dan dia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang pandai, cerdas. Guru mengenal murid-muridnya dengan maksud agar guru dapat membantu pertumbuhan dan perkembangannya secara efektif. Adalah penting sekali mengenal dan memahami siswa dengan seksama, agar dapat menentukan dengan seksama bahan-bahan yang akan diberikan dan menggunakan prosedur yang sesuai (Hamalik, 2004). Pandangan guru terhadap anak didik akan mempengaruhi kegiatan mengajar di kelas. Guru yang memandang anak didik sebagai mahkluk individual dengan segala perbedaan dan persamaannya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didiknya sebagai mahkluk sosial. Perbedaan pandangan dalam memandang anak didik ini akan melahirkan pendekatan yang berbeda pula.
Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. Salah satu kegiatan guru yang harus dilakukan adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode yang bagaimana akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran (Djamarah, 2002). Peranan sangat besar daalam perkembangan kreativitas seseorang, dan guru adalah seseorang yang karena kelebihannya dijadikan panutan atau model seseorang untuk belajar. Belajar untuk mengembangkan kreativitas tidak  harus dilakukan secara berhadapan dalam setting formal melainkan melalui karya-karya orang terdahulu dalam bentuk karya tulis atau dalam bentuk karya kreatif yang lainnya, dan tidak sedikit orang – orang kreatif yang berguru kepada karya-karya pendahulunya tanpa mereka pernah bertemu.  Dalam setting yang formal guru yang besar bukan semata-mata karena reputasi akademik atau keilmuannya saja, melainkan karena kearifannya dalam merangsang anak didiknya untuk mengembangkan diri. Guru adalah tokoh yang bermakna dalam kehidupan siswanya, ia lebih dari sekedar hanya pengajar melainkan pendidik dalam arti sesungguhnya dan kepada guru siswa melakukan proses identifikasi.Peluang untuk munculnya siswa yang kreatif akan lebih besar dari guru yang kreatif pula. Guru yang kreatif akan mengandung pengertian ganda, ia adalah guru yang secara kreatif mampu menggunakan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar dan membimbing siswanya. Guru yang demikian sangat mungkin untuk mengapresiasi, ekspresi kreativitas dan menjadi model identifikasi anak didiknya.
Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap guru memiliki tiga peran dalam proses belajar mengajar, yaitu peran sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator. (Dirjen Pendidikan Menengah Umum, 1999)  .
Sebagai komunikator, dalam mengerjakan bahan-bahan ilmu pengetahuan guru mengalihkan ilmu pengetahuan, sikap dan ketrampilan kepada siswa serta membuat mereka mampu menyerap, menilai, dan mengembangkan secara mandiri ilmu yang dipelajarinya.
Sebagai motivator, guru menimbulkan minat dan semangat pada siswa  secara terus menerus untuk mempelajari dan mendalami ilmunya. Guru terus berupaya untuk merangsang siswanya agar mau dan senang belajar.
Sebagai fasilitator, guru berupaya untuk mempermudah dan memperlancar proses belajar bagi siswanya.
Dalam memainkan peran sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator, guru dapat menggunakan berbagai macam teknik pendidikan dan pengajaran. Teknik pendidikan dan pengajaran yang efektif ialah jika guru menggunakan teknik-teknik yang berorientasi kepada siswa, yang bertitik tolak kepada kebutuhan siswa untuk terus  dibina dan dikembangkan sesuai dengan tujuan pendidikan. Teknik-teknik kreatif merupakan hal yang sangat membantu guru dalam memainkan peranannya sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator.
Seperti yang pernah dijelaskan sebelumnya peran guru dalam membangkitkan dan meningkatkan kreativitas siswa dapat ditujukan dalam kegiatan tatap muka di sekolah. Kreativitas guru dalam memilih metode dan strategi mengajar yang kuat, pemilihan alat bantu atau media pembelajaran juga tidak kalah pentingnya untuk setiap pelajaran pokok bahasan yang diberikan. Selain itu perlu juga dikembangkan program belajar, model-model belajar, materi pelajaran dan sebagainya yang diperuntukkan bagi siswa yang cepat belajar, normal dan lambat belajar.
Dalam pelaksanaan belajar mengajar pengaturan tempat duduk merupakan hal yang dapat dilakukan oleh guru agar terjadi interaksi antar siswa, hal tersebut membantu siswa dapat mengenal siswa lainnya atau untuk mengatasi hal-hal yang mungkin terjadi dalam diri siswa. Selanjutnya kreativitas guru dalam hal memotivasi siswa belajar sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa.
3. Bagi Siswa
Sekolah membina para siswa agar memiliki mental yang sehat dan menghindarkan mereka dari gangguan mental.  Anak-anak yang berbakat kreatif memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang secara sehat apabila mendapatkan bantuan yang tepat dari guru mata pelajaran dan guru bimbingan. Dipihak lain potensi kreatif mereka yang menonjol dapat menimbulkan akibat yang kurang menyenangkan bagi diri yang bersangkutan serta lingkungannya jika perkembangannya tidak mendapat bimbingan secara wajar.
Menurut Piaget dimulai pada usia sekitar 11 – 12 tahun dan seterusnya merupakan tahap perkembangan kognitif pada fase keempat yang disebut tahap operasi formal. (Dirjen Pendidikan Menengah, 1999) Pada masa ini anak mampu mempertimbangkan semua kemungkinan dalam memecahkan masalah dan mampu untuk menalar atas dasar hipotesis dan dalil. Akibatnya mereka dapat meninjau masalah dari berbagai segi pandangan dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor saat memecahkan masalah. Pemikiran anak menjadi luwes dan konkrit serta telah mampu menggabungkan informasi dari sejumlah sumber yang berbeda. Anak telah sanggup mewujudkan satu keseluruhan dalam pekerjaannya yang memiliki hasil dan ditandai berfikir logis, demikian pula perasaan (segi afektif) mendukung penyelesaian tugas karena segi moral juga telah mencapai kematangan.
Menurut Gowan dan Erickson pola berfikirnya seseorang yang bersifat konvergen tidak memiliki pola yang mampu melintasi berbagai situasi yang tidak searah.(Dirjen Pendidikan Menengah Umum, 1999) Pada saat ini peranan guru pembina dalam memberikan soal-soal yang berbentuk pemecahan masalah sangat diperlukan untuk mengembangkan kreativitas. Dalam pemecahan masalah ini hendaknya guru tidak memfokuskan satu pemecahan masalah saja, tetapi para siswa diminta untuk memecahkan masalah dengan berbagai cara.
C. Kesimpulan
Kreativitas merupakan sesuatu yang amat berarti bagi seseorang, lebih-lebih pada diri siswa kreativitas menunjuk kepada pemebentukan ide-ide baru, inovasi adalah untuk menghasilkan sesuatu yang berguna dengan menggunakan ide-ide baru tersebut. Kreativitas merupakan titik permulaan bagi setiap inovasi, dan inovasi adalah merupakan kerja keras  yang mengikuti pembentukan ide dan biasanya melibatkan usaha banyak orang dengan keahlian yang bervariasi yang saling melengkapi.
Dari kreativitas akan lahir berbagai ide, namun suatu ide tidak akan menjadi karya atau tidak terwujud bila tidak dibimbing, direkam , dijabarkan, diformulasikan, direncanakan, diprogram dan dilaksanakan. Dari serentetan aktivitas ini mutlak memerlukan suatu peran dari seluruh tenaga pendidik dalam suatu komponen.
Orang yang memiliki daya inisiatif dan kreatif tinggi selalu menang merebut setiap kesempatan atau peluang yang ada, sehingga merekalah umumnya yang sukses dalam berbagai bidang. Mereka umumnya adalah orang yang tanggap pada setiap perubahan jaman, sigap, dan cekatan, mengadakan tindakan, rajin belajar,  bekerja keras serta memiliki mental persaingan yang tinggi, kiranya pemberian bimbingan kepada siswa dalam mengembangkan kreativitasnya sesuai dengan peran, tugas serta fungsi dari masing-masing komponen yang berada di sekolah sangat diperlukan.

Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling

Strategi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling terkait dengan empat komponen program yaitu:  (1) layanan dasar;  (2)  layanan responsif; (3) perencanaan individual; dan  (4) dukungan sistem.
1. Strategi untuk Layanan Dasar Bimbingan
a. Bimbingan Klasikal
Layanan dasar diperuntukkan bagi semua siswa. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran program yang telah dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan dilaksanakan melalui pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya dilaksanakan pada awal pelajaran, yang diperuntukan bagi para siswa baru, sehingga memiliki pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya. Kepada siswa diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan sekolah, seperti : kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf administrasi), jadwal pelajaran, perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah, jurusan (untuk SLTA), kegiatan ekstrakurikuler, dan fasilitas sekolah lainnya. Sementara layanan informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka, baik melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet). Layanan informasi untuk bimbingan klasikal dapat mempergunakan jam pengembangan diri. Agar semua siswa terlayani kegiatan bimbingan klasikal perlu terjadwalkan secara pasti untuk semua kelas.
b. Bimbingan Kelompok
Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para siswa. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress. Layanan bimbingan kelompok ditujukan untuk mengembangkan keterampilan atau perilaku baru yang lebih efektif dan produktif.
c. Berkolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas
Program bimbingan akan berjalan secara efektif apabila didukung oleh semua pihak, yang dalam hal ini khususnya para guru mata pelajaran atau wali kelas. Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa, dan mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran. Aspek-aspek itu di antaranya : (a) menciptakan sekolah dengan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar siswa; (b) memahami karakteristik siswa yang unik dan beragam; (c) menandai siswa yang diduga bermasalah; (d) membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui program remedial teaching; (e) mereferal (mengalihtangankan) siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing; (f) memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati siswa; (g) memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja); (h) menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan “figur central” bagi siswa); dan (i) memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikannya secara efektif.
d. Berkolaborasi (Kerjasama) dengan Orang Tua
Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan, konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa. Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti : (1) kepala sekolah atau komite sekolah mengundang para orang tua untuk datang ke sekolah (minimal satu semester satu kali), yang pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2) sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan belajar atau masalah siswa, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah ke sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku sehari-harinya.
2. Strategi untuk Layanan Responsif
a. Konsultasi
Konselor memberikan layanan konsultasi kepada guru, orang tua, atau pihak pimpinan sekolah dalam rangka membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para siswa.
b. Konseling Individual atau Kelompok
Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para siswa yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Melalui konseling, siswa (klien) dibantu untuk mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Konseling kelompok dilaksanakan untuk membantu siswa memecahkan masalahnya melalui kelompok. Dalam konseling kelompok ini, masing-masing siswa mengemukakan masalah yang dialaminya, kemudian satu sama lain saling memberikan masukan atau pendapat untuk memecahkan masalah tersebut.
c. Referal (Rujukan atau Alih Tangan)
Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah klien, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan klien kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Klien yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.
d. Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)
Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa yang lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling.
3.  Strategi untuk Layanan Perencanaan Individual
a. Penilaian Individual atau Kelompok (Individual or small-group Appraisal)
Yang dimaksud dengan penilaian ini adalah konselor bersama siswa menganalisis dan menilai kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar siswa. Dapat juga dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif.
b. Individual or Small-Group Advicement
Konselor memberikan nasihat kepada siswa untuk menggunakan atau memanfaatkan hasil penilaian tentang dirinya, atau informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk (1) merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya; (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya.
4.    Strategi untuk Dukungan Sistem
a. Pengembangan Professional
Konselor secara terus menerus berusaha untuk “meng-update” pengetahuan dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam organisasi profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan workshop (lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana).
b. Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi
Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar sekolah (pemerintah, dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang layanan bantuan yang telah diberikannya kepada para siswa, menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan referal, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling. Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua siswa, (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).
c. Manajemen Program
Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan tercisekolaha, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: “Management is the process of planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achieve stated organizational goals”.
Berikut diuraikan aspek-aspek sistem manajemen program layanan bimbingan dan konseling.
1) Kesepakatan Manajemen
Kesepakatan manajemen atas program bimbingan dan konseling sekolah diperlukan untuk mejamin implementasi program dan strategi peluncuran dalam memenuhi kebutuhana siwa dapat dilakukan secara efektif. Kesepakatan ini menyangkut pula proses meyakinkan dan mengembangkan komitmen semua pihak di lingkungan sekolah bahwa program bimbingan dan konseling sebagai bagian terpadu dari keseluruhan program sekolah.
2) Keterlibatan Stakeholder
Komite Sekolah sebagai representasi masyarakat atau stakeholder memerlukan penyadaran dan pemahaman akan keberadaan dan pentingnya layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
3) Manajemen dan Penggunaan Data
Program bimbingan dan konseling komprehensif didukung oleh data. Penggunaan data di dalam layanan bimbingan dan konseling akan menjamin setiap siswa memperoleh manfaat dari layanan bimbingan dan konseling. Konselor harus menunjukkan bahwa setiap aktivitas diimplementasikan sebagai bagian dari keutuhan program bimbingan dan konseling yang didasarkan atas analisis cermat terhadap kebutuhan, prestasi, dan data terkait siswa lainnya. Data yang diperoleh dan digunakan perlu diadministrasikan dengan baik dan cermat. Manajemen data dilakukan secara manual maupun komputer. Dalam era teknologi informasi, manjemen data siswa dilakukan secara komputer. Database siswa perlu dibangun dan dikembangkan agar perkembangan setiap siswa dapat dengan mudah dimonitor. Penggunaan data siswa dan lingkungan sekolah yang tertata dan dikelola dengan baik untuk kepentingan memonitor kemajuan siswa, akan menjamin seluruh siswa menerima apa yang mereka perlukan untuk keberhasilan sekolah. Konselor harus cermat dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data. Kemajuan perkembangan siswa dapat dimonitor dari : prestasi belajar, data yang terkait dengan prestasi belajar, dan data tingkat penguasaan tugas-tugas perkembangan atau kompetensi.
4) Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan (action plans) diperlukan untuk menjamin peluncuran program bimbingan dan konseling dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien. Rencana kegiatan adalah uraian detil dari program yang menggambarkan struktur isi program, baik kegiatan di sekolah maupun luar sekolah, untuk memfasilitasi siswa mencpai tugas perkembangan atau kompetensi.
5) Pengaturan Waktu
Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melaksanakan layanan bimbingan dan konseling dalam setiap komponen program perlu dirancang dengan cermat. Perencanaan waktu ini didasarkan kepada isi program dan dukungan manajemen yang harus dilakukan oleh konselor. Sebagai contoh, misalnya 80% waktu digunakan untuk melayanai siswa secara langsung dan 20% digunakan untuk dukungan manajerial. Porsi waktu untuk peluncuran masing-masing komponen program dapat ditetapkan sesuai dengan pertimbangan sekolah. Misalnya:
  • Layanan dasar (30-40%),
  • Responsif (15-25%),
  • Perencanaan individual (25-35%),
  • Dukungan sistem (10-15%).
Ini contoh, dan setiap sekolah bisa mengembangkan sendiri. Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Bimbingan dan Konseling Perkembangan, perlu ditetapkan waktu secara terjadwal untuk layanan bimbingan dan konseling klasikal.
6) Kalender Kegiatan
Program bimbingan dan konseling sekolah yang telah dituangkan ke dalam rencana kegiatan perlu dijadwalkan ke dalam bentuk kalender kegiatan. Kalender kegiatan mencakup kalender tahunan, semesteran, bulanan, dan mingguan.
7)    Jadwal Kegiatan
Program bimbingan dapat dilaksanakan dalam bentuk (a) kontak langsung, dan (b) tanpa kontak langsung dengan siswa. Untuk kegiatan kontak langsung yang dilakukan secara klasikal di kelas (layanan dasar) perlu dialokasikan waktu terjadwal 1 – 2 jam pelajaran per-kelas per-minggu. Mengenai jadwal kegiatan bimbingan, dewasa ini sudah mendapat legalitas pemerintah, yaitu dengan terbitnya Peraturan Menteri Diknas No. 22 Tahun 2006. Dalam struktur kurikulum yang termaktub dalam Permen tersebut, tercantum materi pengembangan diri selama 2 jam/minggu, yang berlaku bagi semua satuan pendidikan dasar dan menengah. Dalam implementasinya, materi pengembangan diri dilakukan oleh konselor. Sementara kegiatan langsung yang dilakukan secara individual dan kelompok dapat dilakukan di ruang bimbingan, dengan menggunakan jadwal di luar jam pelajaran. Adapun kegiatan bimbingan tanpa kontak langsung dengan siswa dapat dilaksanakan melalui tulisan (seperti buku-buku, brosur, atau majalah dinding), kunjungan rumah (home visit), konferensi kasus (case conference), dan alih tangan (referal).
8) Anggaran
Perencanaan anggaran merupakan komponen penting dari manajemen bimbingan dan konseling. Perlu dirancang dengan cermat berapa anggaran yang diperlukan untuk mendukung implementasi program. Anggaran ini harus masuk ke dalam Anggaran dan Belanja Sekolah.
9)    Penyiapan Fasilitas
Fasilitas yang diharapkan tersedia di sekolah ialah ruangan tempat bimbingan yang khusus dan teratur, serta perlengkapan lain yang memungkinkan tercapainya proses layanan bimbingan dan konseling yang bermutu. Ruangan hendaknya sedemikian rupa sehingga di satu segi para siswa yang berkunjung ke ruangan tersebut merasa senang, aman dan nyaman, serta segi lain di ruangan tersebut dapat dilaksanakan layanan dan kegiatan bimbingan lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik bimbingan dan konseling. Terkait dengan fasilitas bimbingan dan konseling, disini dapat dikemukakan tentang unsur-unsurnya, yaitu : (1) tempat kegiatan, yang meliputi ruang kerja konselor, ruang layanan konseling dan bimbingan kelompok, ruang tunggu tamu, ruang tenaga administrasi, dan ruang perpustakaan; (2) instrumen dan kelengkapan administrasi, seperti : angket siswa dan orang tua, pedoman wawancara, pedoman observasi, format konseling, format satuan layanan, dan format surat referal; (3) Buku-buku panduan, buku informasi tentang studi lanjutan atau kursus-kursus, modul bimbingan, atau buku materi layanan bimbingan, buku program tahunan, buku program semesteran, buku kasus, buku harian, buku hasil wawancara, laporan kegiatan layanan, data kehadiran siswa, leger BK, dan buku realisasi kegiatan BK; (4) perangkat elektronik (seperti komputer, dan tape recorder); dan (5) filing kabinet (tempat penyimpanan dokumentasi dan data siswa).
Di dalam ruangan itu hendaknya juga dapat disimpan segenap perangkat instrumen bimbingan dan konseling, himpunan data siswa, dan berbagai data serta informasi lainnya. Ruangan tersebut hendaknya juga mampu memuat berbagai penampilan, seperti penampilan informasi pendidikan dan jabatan, informasi tentang kegiatan ekstra kurikuler, dan sebagainya. Yang tidak kalah penting ialah, ruangan itu hendaklah nyaman yang menyebabkan para pelaksana bimbingan dan konseling betah bekerja. Kenyamanan itu merupakan modal utama bagi kesuksesan pelayanan yang terselenggara. Sarana yang diperlukan untuk penunjang layanan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut.
(1)  Alat pengumpul data, baik tes maupun non-tes.
Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat sekolah, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi belajar. Alat pengumpul data yang berupa non-tes yaitu: pedoman observasi, catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, alat-alat mekanis, pedoman wawancara, angket, biografi dan autobiografi, dan sosiometri.
(2) Alat penyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data.
Alat penyimpan data itu dapat berbentuk kartu, buku pribadi dan map. Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna tertentu, sehingga mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan, informasi atau pun data untuk masing-masing siswa, maka perlu disediakan map pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data siswa yang perlu dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku pribadi.
(3) Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket bimbingan, alat bantu bimbingan Perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, format rencana satuan layanan dan kegiatan pendukung serta blanko laporan kegiatan, blanko surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat.
10) Pengendalian
Pengendalian adalah salah satu aspek penting dalam manajemen program layanan bimbingan dan konseling. Dalam pengendalian program, koordinator sebagai pemimpin lembaga atau unit bimbingan dan konseling hendaknya memiliki sifat sifat kepemimpinan yang baik yang dapat memungkinkan tercisekolahanya suatu komunikasi yang baik dengan seluruh staf yang ada. Personel-personel yang terlibat di dalam program, hendaknya benar-benar memiliki tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya maupun tanggung jawab terhadap yang lain, serta memiliki moral yang stabil.
Pengendalian program bimbingan ialah : (a) untuk mencipakan suatu koordinasi dan komunikasi dengan seluruh staf bimbingan yang ada, (b) untuk mendorong staf bimbingan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dan (c) memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang telah direncanakan.
Pengawas dapat melakukan pengawasan dan pembinaan : apakah program bimbingan dan konseling yang disusun dilaksanakan sesuai dengan rancangan program?. Apakah terdapat dokumentasi sebagai indikator pencatatan pelaksanaan program?. Pengawas dapat berdiskusi dengan konselor program-program mana yang sudah dilaksanakan?, apa hambatan yang ditemui pada saat melaksanakan program?, apakah dapat diidentifikasi keberhasilan yang dicapai program?, apakah dapat diperoleh informasi dampak langsung maupun tidak langsung pelaksanaan program terhadap siswa, pendidik maupun institusi pendidikan?. Pengawas juga diharapkan memberikan dorongan dan saran-saran bagaimana program-program yang belum terlaksana dapat dilakukan. Pengawas harus mengembangkan diskusi bersama pimpinan sekolah dan konselor berkenan dengan dukungan kebijakan, sarana dan prasara untuk keterlaksanaan program.
C. Organisasi dan Personalia
Layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan di bawah tanggung jawab Kepala Sekolah dan seluruh staf. Koordinator bimbingan dan konseling bertanggung jawab dalam menyelenggarakan bimbingan dan konseling secara operasional. Personel lain yang mencakup Wakil Kepala Sekolah, Guru Pembimbing (konselor), guru bidang studi, dan wali kelas memiliki peran dan tugas masing-masing dalam penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling. Secara rinci deskripsi tugas dan tanggung jawab masing-masing personel, serta organisasi bimbingan dan konseling di sekolah dapat disimak pada tabel 1. berikut.
Tabel. 1. Deskripsi Tugas Personalia Bimbingan Konseling di Sekolah
Jabatan Deskripsi Tugas
Kepala Sekolah
  1. Mengkoordinasikan seluruh kegiatan pendidikan, yang meliputi kegiatan pengajaran, pelatihan, serta bimbingan dan konseling di sekolah;
  2. Menyediakan dan melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah;
  3. Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program bimbingan dan konseling di sekolah;
  4. Melakukan supervisi terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah;
  5. Menetapkan koordinator guru pembimbing yang bertanggung jawab atas koordinasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah berdasarkan kesepakatan bersama guru pembimbing;
  6. Membuat surat tugas guru pembimbing dalam proses bimbingan dan konseling pada setiap awal catur wulan;
  7. Menyiapkan surat pernyataan melakukan kegiatan bimbingan dan konseling sebagai bahan usulan angka kredit bagi guru pembimbing. Surat pernyataan ini dilampiri bukti fisik pelaksanaan tugas;
  8. Mengadakan kerja sama dengan instansi lain (seperti Perusahaan/Industri, Dinas Kesehatan, kepolisian, Depag), atau para pakar yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling (seperti psikolog, dan dokter)
Wakil Kepala Sekolah
  1. Mengkoordinasikan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling kepada semua personel sekolah.
  2. Melaksanakan kebijakan pimpinan sekolah terutama dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling.
Koordinator Bimbingan dan Konseling
  1. Mengkoordinasikan para guru pembimbing dalam: (a) memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling; (b) menyusun program bimbingan dan konseling; (c) melaksanakan program bimbingan dan konseling; (c) mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling; (d) menilai program bimbingan dan konseling; dan (e) mengadakan tindak lanjut.
  2. Membuat usulan kepada kepala sekolah dan mengusahakan terpenuhinya tenaga, sarana dan prasarana;
  3. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling kepada kepala sekolah.
Konselor atau Guru Pembimbing
  1. Memasyarakatkan kegiatan bimbingan dan
  2. konseling (terutama kepada siswa).
  3. Merencanakan program bimbingan dan konseling bersama kordinator BK.
  4. Merumuskan persiapan kegiatan bimbingan dan konseling.
  5. Melaksanakan layanan bimbingan dan konseling terhadap siswa yang menjadi tanggung jawabnya (melaksanakan layanan dasar, responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem).
  6. Mengevaluasi proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan dan konseling.
  7. Menganalisis hasil evaluasi.
  8. Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis penilaian.
  9. Mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling.
  10. Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada koordinator guru pembimbing atau kepada kepala sekolah.
  11. Menampilkan pribadi sebagai figur moral yang berakhlak mulia (seperti taat beribadah, jujur; bertanggung jawab; sabar; disiplin; respek terhadap pimpinan, kolega, dan siswa).
  12. Berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan sekolah yang menunjang peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
Guru Mata Pelajaran
  1. Membantu memasyarakatkan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
  2. Melakukan kerja sama dengan guru pembimbing dalam mengidentifikasi siswa yang memerlukan bimbingan dan konseling.
  3. Mengalihtangankan (merujuk) siswa yang memerlukan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing.
  4. Mengadakan upaya tindak lanjut layanan bimbingan dan konseling (program perbaikan dan program pengayaan, atau remedial teaching).
  5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling dari guru pembimbing
  6. Membantu mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian layanan bimbingan dan konseling
  7. Menerapkan nilai-nilai bimbingan dalam PBM atau berinteraksi dengan siswa, seperti : bersikap respek kepada semua siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, atau berpendapat, memberikan reward kepada siswa yang menampilkan perilaku/prestasi yang baik, menampilkan pribadi sebagai figur moral yang berfungsi sebagai ”uswah hasanah”.
  8. bertanggung jawab memberikan layanan bimbingan pada siswa dengan perbandingan 1 : 150 orang
Wali Kelas
  1. Membantu guru pembimbing melaksanakan layanan bimbingan dan konseling yang menjadi tanggung jawabnya.
  2. Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti layanan bimbingan dan konseling.
  3. Memberikan informasi tentang keadaan siswa kepada guru pembimbing untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling.
  4. Menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang siswa yang perlu diperhatikan secara khusus dalam belajarnya.
  5. Ikut serta dalam konferensi kasus.
Staf Administrasi
  1. Membantu guru pembimbing (konselor) dan koordinator BK dalam mengadministrasikan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah;
  2. Membantu guru pembimbing dalam menyiapkan seluruh kegiatan bimbingan dan              konseling.
  3. Membantu guru pembimbing dalam menyiapkan sarana yang diperlukan dalam layanan bimbingan dan konseling.

Adapun struktur Organisasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah (SMP/MTs, SMA/MA/SMK) adalah sebagai berikut.
struktur program BK
Gambar 1. Struktur Organisasi Bimbingan Konseling di SMP/MTs. dan SMA/MA/SMK
Beban tanggungjawab guru pembimbing (konselor) melaksanakan layanan bimbingan dan konseling adalah 1 : 150 siswa, sehingga jumlah konselor yang dibutuhkan pada satu sekolah adalah jumlah seluruh siswa dibagi 150. Pemberian layanan dasar bimbingan secara klasikal dapat memanfaatkan waktu pengembangan diri yaitu 2 (dua) jam pelajaran. Aktivitas dapat dilakukan didalam maupun diluar kelas secara terjadwal sehingga setiap siswa memperoleh kesempatan memperoleh layanan. Lingkup materi layanan adalah layanan pribadi, sosial, belajar maupun karir.
Terkait dengan peran pengawas sekolah, maka dalam hal ini pengawas sekolah perlu mengetahui dan memahami bagaimana struktur dan lingkup program sebagai bahan pembinaan dan pengawasan terhadap kinerja konselor dan pelayanan pendidikan psikologis yang diterima oleh peserta didik untuk mendukung pencapaian perkembangan yang optimal serta mutu proses dan hasil pendidikan
Pengawas melakukan pembinaan dan pengawasan dengan melakukan diskusi terfokus berkenaan dengan ketersediaan personil konselor sesuai dengan kebutuhan (berdasarkan jumlah siswa) serta upaya-upaya untuk memenuhi ketersediaan konselor, optimalisasi peran dan fungsi personil sekolah dalam layanan bimbingan dan konseling, serta mekanisme layanan sesuai dengan peran dan fungsi.

Kegagalan awal dari keberhasilan


 Banyak orang berkata bahwa kegagalan adalah awal keberhasilan. Lalu kita bertanya, “Kegagalan seperti apa yang bisa menjadi awal dari keberhasilan itu?”
Suatu hari seekor landak bertemu dengan seekor rubah. Seperti biasanya, rubah selalu punya cara licik untuk menaklukan musuhnya. Namun landak pun dibekali Sang Pencipta senjata ampuh berupa duri-duri di tubuhnya untuk mempertahankan diri dari musuh. Sebelum bertarung landak berkata, ”Jika kali ini kamu berhasil menyakitiku, aku akan membencimu. Tapi jika di lain waktu kamu berhasil menyakitiku lagi, maka aku akan membenci dan menyalahkan diriku sendiri.”
Jika seekor landak bisa berkata seperti itu, mampukah manusia? Manusia makhluk terbaik yang diciptakan Allah SWT di muka bumi, ”Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kalian memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3]: 110). Kita pasti lebih mengerti untuk menyikapi hidup ini yang terkadang manis namun juga tak jarang pahit. Kegagalan bukan cela, namun yang patut dicela adalah kegagalan beruntun dengan kesalahan yang sama.
Seorang anak kecil yang dimarahi ibunya karena asyik bermain di rumah temannya sehingga telat pulang ke rumah, pasti akan jera dan tidak melakukan kesalahan yang sama pada hari-hari berikutnya, kecuali jika anak tersebut benar-benar bandel dan tidak mendapat pendidikan yang baik dari orangtuanya. Atau seorang lulusan SMU yang gagal dalam UMPTN sedangkan dia memiliki keinginan yang kuat untuk duduk di bangku kuliah pasti akan mencari letak kesalahan yang menjadi penyebab kegagalan tersebut, lalu mencari solusi yang tepat untuk memperbaikinya.
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memberi kita sebuah kaidah untuk menjadi mukmin yang penuh kehati-hatian dalam menjalani hidup ini. Beliau bersabda, “Seorang mukmin adalah orang yang pandai, waspada dan cerdas.” Hadits ini bermakna agar seorang mukmin tanggap dalam setiap situasi yang sedang dihadapinya, dan juga harus cerdik menghadapi jebakan musuh. Musuh terbesar manusia adalah setan. Sebagai manusia biasa, kita pasti pernah berbuat salah. Dan kesalahan yang paling sering kita lakukan dan selalu kita anggap remeh adalah kita lupa bahwa kita diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya, ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).
Kita adalah hamba-Nya, namun kita sering lupa bahwa kita hanyalah seorang hamba.
Kita selalu menunda taubat karena menyangka bahwa hidup ini masih panjang. Padahal tak seorang pun tahu kapan Izrail akan mengetuk pintu rumah kita dan mengambil satu-satunya nyawa kita. Atau kita berkata, ”Nanti saja bertaubatnya, setelah pergi haji.” Atau, “Sekarang saya masih muda, saatnya senang-senang. Nanti jika saya sudah tua, saya akan bertaubat.”
Sikap seperti ini harus kita hindari karena hanya akan merugikan diri sendiri. Ibn Al-Jauzi dalam Talbis Iblis menulis bahwa setan tak memiliki senjata yang paling ampuh untuk menjerumuskan manusia ke dalam neraka selain mental taswif manusia, yaitu mental selalu menunda perbuatan.
Siapkah kita dilemparkan ke neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu? Di dalamnya terdapat malaikat yang keras, bengis dan tidak pernah melanggar perintah Allah. Siapapun tidak akan sanggup menanggung azab sepedih itu. Oleh karena itu, jika kemarin kita gagal menjadi seorang hamba yang baik, maka kegagalan itu tidak boleh terulang lagi hari ini dan esok hari. Kita harus segera bertaubat dan berjanji untuk tidak lagi mengulanginya agar kegagalan tersebut benar-benar menjadi awal keberhasilan kita. Wallahu a’lam.

Biarkan Masa Depan Datang Sendiri

“ Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar
disegerakan (datang) nya “
Jangan pernah mendahului sesuatu yang masih belum terjadi! Apakah anda mau
mengeluarkan bayi dari dalam kandungan sebelum waktunya di lahirkan, atau memetik
buah-buahan sebelum buah itu masak? Hari esok adalah sesuatu yang masih belum nyata
dan dapat di raba maupun di ramal, jadi mengapa kita harus menyibukan diri dengan
bagaimana hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan apa yang mungkin akan terjadi
padanya. Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengan hari esok??
Dan kita juga tidak tahu apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau
kesedihan.
Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan masih belum turun ke bumi.
Maka tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum kita sampai diatas
jembatan tersebut. Sebab kita juga tidak tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada
jembatan itu. Bisa jadi langkah kita akan terhenti sebelum sampai di jembatan tersebut,
atau mungkin pula jembatan yang mau kita seberangi itu hanyut terbawa oleh arus
terlebih dahulu sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa pula kita akan sampai pada
jembatan itu lalu kemudian menyeberanginya.
“ Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu
berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari pada-Nya
dan karunia”
( QS. Al-Baqarah :268 )
Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang menyangka diri
mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur
dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal orang yang sadar bahwa usia hidupnya
berada di tangan Allah tentu tidak akan mengkawatirkan sesuatu yang tidak ada atau
belum terjadi. Dan orang yang tidak tahu kapan dia akan mati, tentu salah besar bila dia
justru menyibukan diri dengan sesuatu yang masih belum terjadi padanya ( masa
depannya )
Biarkan hari hari esok dan masa depan itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah
menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Sebab
hari ini anda sudah sangat sibuk.
Jika anda merasa heran maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani
menebus kesedihan sesuatu yang masih belum tentu matahari akan terbit di dalamnya
dengan bersedih di hari ini. Oleh karena itu hindarilah angan-angan yang berlebihan
dengan menebak-nebak apa yang akan terjadi dengan masa depan anda. Lakukanlah dan
berbuatlah yang terbaik untuk hidup anda hari ini. Dan biarkan masa depan anda datang
dengan sendirinya

KISAH NYATA

Nama Lengkap : Tamyiz Faruqi
TTL                  : Madiun, 15 Nopember 1990
Alamat              : Jl. PP Darussalam Kradinan Dolopo Madiun 63174
Hoby                : Jalan-jalan
E-mail               : alfaruq.uqi@gmail.com
Blog                  : www.aiz-alfaruq.blogspot.com
Twitter              : @Aiz_alfaruq
No. HP             : 085-790-531-149


Saya adalah anak ketiga dari tiga saudara, saudara saya yang pertama perempuan dia sudah menikah mendapat jodoh rumahnya Dagangan n sekarang dah mempunyai anak dua yang pertama laki2 n nak yang kedua perempuan, dan saudara saya yang keduaperempuan juga n sudah menikah juga n sekarang dah mempunyai anak 1 cewek...
Kini tinggal diriQ yang belum menikah karena masih belum nyampek umurnya dan masih mencari ilmu,n saya sambi kuliyah.
SD saya di SDN Kradinan 01 Lulus tahun 2003
MTs saya di Miftahul Ulum Kradinan Lulus Tahun 2006
MA saya di Miftahul Ulum Juga  Lulus Tahun 2009
dan sekarang saya kuliyah diUNDAR jombang masih semester 1 jadi lama banget saya untuk married.he he
dan nie saya sambi kerja di TU shcool MIFTAHUL ULUM yang dulu itu sekolahan saya.
doain saya ya......????
moga perjalanan saya di ridhoi oleh Allah SWT
Sekian dulu dari saya......
SALAM SEJAHTERA.............SEMANGAT......SEMANGAT....SEMANAGAT......

DELAPAN TNDA PRIA PUNYA MASA DEPAN CERAH

 Apa yang Anda lihat ketika memilih pasangan? Pria yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang? Jika tujuan hubungan Anda hanya saat ini, mungkin itu cukup. Namun, bila yang Anda cari adalah hubungan yang serius hingga ke pernikahan, ada kriteria lain yang sebaiknya Anda lihat, yaitu potensi kesuksesan dia.

1. Punya tujuan hidup
Ketika Anda bertanya apa tujuan hidupnya, ia akan menjelaskan secara rinci kepada Anda rencana jangka pendek dan menengahnya, apa yang ingin ia lakukan setahun mendatang, lima tahun, dan seterusnya.

Bahkan, ia menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi kegagalan. Tidak hanya menjawab, "Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air mengalir."

2. Mandiri
Ia tidak bergantung pada orang lain dan mengandalkan kemampuan sendiri dalam hal apa pun. Misalnya, sejak awal mula bekerja, ia menanggung sendiri biaya hidupnya tanpa bantuan orangtuanya. Pria seperti ini menunjukkan bahwa ia bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup orang yang ia sayangi. Si dia juga tak pernah mengeluh mengenai pekerjaannya. Karena ia sadar, untuk mencapai kesuksesan, tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras.

3. Hobi menolong
Anda tentu pernah mendengar ungkapan semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima. Percaya atau tidak, ungkapan ini memang ada benarnya. Jadi, bila pasangan termasuk pria yang ringan tangan membantu orang lain, Anda perlu berbangga hati mendukungnya. Sebab, ini akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju kesuksesannya di masa depan. Siapa tahu seseorang yang ia bantu saat ini berperan penting dalam kariernya di kemudian hari.

4. Bersahabat dan berwawasan
Sikapnya yang bersahabat ditambah dengan wawasan luasnya biasanya akan mudah mengambil hati banyak orang, termasuk saat melobi orang-orang penting yang berkaitan dengan kariernya. Pengetahuannya tentang berbagai hal termasuk berita-berita terkini akan membuat orang lain merasa nyaman berdiskusi dengannya. Semakin banyak orang tertarik padanya, semakin luas juga networking-nya. Kalau sudah begini, Anda tak perlu khawatir dengan kualitas diri yang dimiliki si dia, kesuksesan pun akan segera menghampiri.

5. "Family man"
Pria yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya biasanya adalah pria yang juga memerhatikan perkembangan kariernya. Ia akan selalu termotivasi meningkatkan karier lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, pria tipe ini cenderung setia pada pasangannya sehingga ia bisa menyeimbangkan waktu dan pikirannya untuk Anda dan pekerjaannya.

6. Memiliki investasi
Saat ini gaji si dia tak bisa dibilang besar? Tak perlu khawatir selama ia bisa mengatur pendapatannya dan tak selalu kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi bila ia termasuk orang yang jeli melihat peluang bisnis. Tak perlu terlalu besar, berangkat dari bisnis kecil-kecilan pun bisa mengantarkannya menjadi pengusaha sukses. Dukung sepenuhnya ketika dia memiliki keinginan untuk mencicil rumah atau berinvestasi dalam bentuk lain, seperti saham atau reksa dana. Karena ini menunjukkan si dia sangat memikirkan masa depan.

7. Realistis dan lurus
Meskipun si dia bersemangat meraih mimpinya, tetap amati bagaimana usahanya meraih impian, jangan sampai si dia menghalalkan berbagai cara yang justru bisa menghancurkan masa depannya. Ingatkan untuk tetap realistis dengan kemampuan  yang dimilikinya. Bila si dia ahli dalam bidang teknologi informatika, ia tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seorang public relations karena tertarik melihat temannya yang sukses di bidang tersebut. Masing-masing orang kan memiliki kelebihan yang berbeda-beda.

8. Optimistis dan positif
Ia sangat tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya sehingga ia selalu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberikan tanggung jawab baru. Ia hampir tak pernah berkata "tidak bisa" atau "malas deh melakukannya". Ia selalu berpikir positif dan optimistis bahwa setiap tantangan yang datang pasti ada solusinya. Selain itu, ia juga terbiasa fokus dalam melakukan sesuatu sehingga tak cepat menyerah saat mengalami kegagalan.