DALAM PENINGKATAN KREATIVITAS SISWA
A. Pemahaman Kreativitas
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini dan dimasa yang akan datang sangat dibutuhkan sumber daya manusia terdidik, terampil, tangguh, dinamis, dan kreatif serta mampu berfikir kritis dalam menghadapi suatu persoalan. Setiap individu perlu dan selalu meningkatkan kemampuan ketrampilan baik hal yang formal maupun yang nonformal agar tidak kalah bersaing dalam masyarakat yang semakin komplek sifatnya.
Kekayaan bangsa kita hasil dari kualitas otak penduduknya, kreativitas dan ketrampilannya. Aset terbaik adalah kemampuan kolektif kita untuk belajar cepat dan beradaptasi secara cerdas terhadap situasi yang tidak bisa diramalkan. Dalam kontek dunia pendidikan yang perlu menjadi prioritas utama kita adalah mengajar siswa bagaimana cara belajar dan bagaimana berfikir.
Belajar bukan hanya mengetahui jawaban-jawaban , juga bukan hanya mengetahui serpihan dan penggalan dari suatu batang tubuh pengetahuan . Belajar tidak diukur dengan dengan indek prestasi dan nilai ujian semata, belajar bukan hanya aktifitas menulis di atas papan tulis apa yang diketahui orang lain. Belajar adalah petualangan seumur hidup, perjalanan eksplorasi tanpa akhir untuk menciptakan pemahaman personal kita sendiri . Petualangan itu haruslah melibatkan kemampuan untuk secara terus menerus menganalisis dan meningkatkan cara belajar serta berfikir (Rose : 2003)
Inovasi terwujud adanya kreativitas yang tinggi, dan kreativitas bukan hanya merupakan kemampuan untuk membawa sesuatu yang relatif baru dalam kehidupan tetapi juga harus memiliki peran penting. Seseorang harus menemukan jati diri, berbagai gagasan atau ide juga perlu ditemukan jika ingin menghasilkan sesuatu yang diinginkan, dan semua itu hanya mungkin jika otak sebagai markas besar daya pikir yang menghasilkan ide untuk kreatif benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Anak didik adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah, orang tuanya yang memasukkan untuk dididik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan dikemudian hari. Anak didik adalah organisme yang hidup memiliki suatu kebutuhan , minat kemampuan , intelek, kreativitas, dan masalah-masalah tertentu. Kepercayaan orang tua diterima guru dengan kesadaran dan penuh keikhlasan, maka jadilah guru sebagai pengemban tanggungjawab yang diserahkan itu (Djamarah : 2002)
Di sekolah kita harus menjamin agar siswa mampu belajar secara mandiri sehingga mereka bisa memanfaatkan peluang-peluang yang memikat dari alat-alat bantu belajar interaktif yang baru.Kendati demikian mereka juga harus bisa bekerja secara bersama untuk mengatasi berbagai masalah , seperti masalah-masalah masyarakat yang nyata, yang melibatkan kepentingan mereka karena ada relevansinya dengan kehidupan mereka. Dengan cara yang demikian para siswa dapat mengembangkan ketrampilan dasar mereka dan sekaligus belajar mengembangkan ketrampilan berfikir kreatif dan kritis.
Siswa atau anak-anak biasanya lebih kreatif dari pada orang dewasa, pikirannya masih mencari dan menemukan pola-pola perilaku, serta label mereka belum cukup kuat untuk membatasi cara berfikirnya. Seperti pandangan John Looke bahwa jiwa anak bagaikan tabula rasa, sebuah meja lilin yang dapat ditulis dengan apa saja sebagaimana keinginan si pendidik. Tidak ada bedanya dengan sehelai kertas putih yang dapat ditulis dengan tinta merah, hitam dan sebagainya. Sayangnya penekanan yang berlebihan pada satu jawaban benar di sekolah umumnya mulai membatasi kreativitas itu, maka jika paradigma yang muncul demikian tentu ada implikasinya. Yang mendesak dan penting adalah kita perlu serta hurus melakukan perubahan, kita harus membantu siswa menciptakan suatu lingkungan yang kaya merangsang dan memotivasi pikiran kreatif. Upaya untuk menggalakkan kreatif siswa terus dan perlu dilakukan seperti terlihat dari aneka lomba khususnya yang ada di kalangan pemuda untuk meningkatkan apresiasi yang berkelanjutan pada pemahaman kreativitas. Oleh karena itu dirasakan perlu pula dikembangkan tidak hanya dikalangan para siswa tetapi juga untuk kalangan para tenaga pendidikan.
B. Berfikir Kreatif
Kita dapat merencanakan diri sebagai seorang yang kreatif, namun menjadi kreatif tidak hanya bisa dengan berpangku tangan menunggu ilham yang datang dan hal ini selalu menuntut banyak usaha keras dan mensyaratkan persiapan matang. Tentu saja motivasi sangat membantu, memperoleh pengetahuan latar belakang yang terinci tentang subyek yang dipelajari adalah kunci kreativitas karena hampir semua gagasan baru adalah kombinasi ulang berpikir dari ide-ide yang ada. Orang yang kreatif selalu lebih banyak mengetahui tentang subyeknya, suatu inspirasi akan muncul dari latar belakang pengetahuan yang ahli dan akan berpihak pada pikiran yang siap.
Dengan belajar dari orang berfikiran kreatif yang sukses kita kemungkinan dapat melacak dan menjejaki pola umum sikap dan metode kerja mereka. (Rose, 2003 ) Suatu kreativitas juga menuntut keberanian, jika kita mau melepaskan diri dari cara berpikir konvensional maka kita beresiko dan kita harus berani menghadapi resiko kegagalan, kecaman dan kritik dari orang lain. Sangatlah susah melepaskan diri kita dari berpikir konvensional, karena kita perlu menjadi seorang pilot otomatis hampir setiap saat. Hidup menjadi terlalu sulit jika setiap hari kita harus menyegarkan kembali ketrampilan bagaimana untuk mencukur, berpakaian, menyiapkan makan pagi dan bekerja. Pikiran memberi label aktivitas-aktivitas rutin menempatkan setiap kejadian yang sama kedalam kategori yang sama pula, sehingga bila label tersebut sekali telah disematkan maka pemikiran menjadi kaku dan konvensional.
Menurut Sternberg (Rose, 2003 ) mengenai kreativitas ada tiga tahapan, yaitu:
Treffinger membagi empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting bagi kehidupan seseorang :
C. Strategi Peningkatan Kreatifitas Siswa.
1.Bagi Kepala Sekolah.
Proses pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekembangan kreatifitas. Meskipun bukan satu-satunya penentu lahirnya orang-orang yang kreatif, pendidikan merupakan faktor yang sangat penting sekali peranannya. Inti dari proses pendidikan itu adalah proses belajar yang melibatkan guru dan siswa, baik dalam setting persekolahan maupun di luar sekolah.
Komponen kepala sekolah sebagai EMASLIM yaitu sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, inovator, motivator (Mulyasa:2005) di sekolah merupakan faktor-faktor yang terkait dengan kreativitas kepala sekolah dalam memgelola sekolah yang menjadi tanggungjawabnya. Sebagai seorang educator atau pendidik, harus memiliki jiwa pendidik untuk merubah perilaku anak didik secara manusiawi. Mengubah perilaku siswa menjadi siswa yang disiplin, memilki kemauan belajar dan berkembang hidup dalam keteraturan. Selain itu kepala sekolah sebagai pendidik harus bisa menumbuhkan kewibawaan sehingga siswa menghormati, dan menjadikan sebagai panutan sekaligus tak lupa bagaimana meningkatkan prestasi atau mutu anak didik.
Sebagai seorang manager, kepala sekolah harus mampu mengelola sumber daya manusia yang ada dan berusaha agar mereka berperan dalam program sekolah dan tidak sibuk dengan aktivitas yang lain. Sistem harus berjalan dengan baik seperti yang telah direncanakan, dalam hal ini harus mampu mendelagasikan tugas sesuai dengan visi dan misi yang tertuang dalam progaram perencanaan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
Sebagai ’administrator’ seorang kepala sekolah harus mampu mengadministrasikan keperluan sekolah dengan menggunakan sumber daya yang ada untuk keberhasilan program sekolah, serta dapat menterjemahkan program sekolah menjadi langkah-langkah bersifat operasional yang akan memproduksi hasil.
Kepala Sekolah dituntut untuk menjadi ’supervisor’ yaitu menjadi pembimbing, pengawas bagi guru, dan pegawai lainnya. Hal ini berarti kepala sekolah menjadi tempat bertanya bagi semua komponen sekolah, dapat membimbing guru dalam proses belajar mengajar tanpa menjadikan guru merasa digurui.
Sebagai ’leader’ harus berusaha mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok morang untuk mencapai keberhasilan. Selain itu harus dapat sebagai mediator antar kelompok sekolah, mampu mengidentifikasi permasalahan yang ada dan mencari pemecahannya serta mengakomodasikan aspirasi dari masing-masing komponen sekolah.
Kepala sekolah yang memiliki kemampuan sebagi ’inovator’ adalah kepala sekolah yang selalu mencari dan menemukan temuan-temuan baru, terobosan baru, atau metode-metode baru yang bermanfaat bagi peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu kepala sekolah harus memiliki kreativitas dan keinginan untuk mempelajari atau mengikuti perkembanmgan pengetahuan dan teknologi.
Kepala sekolah yang mampu menjadi ’motivator’ beratri ia dapat menggugah guru untuk selalu meningkatkan kualitas profesinya, dan memanfaatkan sumber daya yang ada dengan potensinya. Mampu menumbuhkan situasi yang mendukung keinginan untuk berprestasi, mengembangkan diri secara profesional, menciptakan sistem penghargaan dan hukuman yang menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Hal-hal tersebut dipercaya dapat menimbulkan akibat positif terhadap kepuasan kerja, yang sering menyebabkan peningkatan produktivitas seseorang secara keseluruhan. Kesempatan ini menuntut kreativitas yang tinggi dari kepala sekolah, jika sekolah itu akan berkembang menjadi sekolah yang baik.
2. Bagi Guru
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan pada anak didik di sekolah, dan guru orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya serta keilmuan yang dimilikinya dan dia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang pandai, cerdas. Guru mengenal murid-muridnya dengan maksud agar guru dapat membantu pertumbuhan dan perkembangannya secara efektif. Adalah penting sekali mengenal dan memahami siswa dengan seksama, agar dapat menentukan dengan seksama bahan-bahan yang akan diberikan dan menggunakan prosedur yang sesuai (Hamalik, 2004). Pandangan guru terhadap anak didik akan mempengaruhi kegiatan mengajar di kelas. Guru yang memandang anak didik sebagai mahkluk individual dengan segala perbedaan dan persamaannya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didiknya sebagai mahkluk sosial. Perbedaan pandangan dalam memandang anak didik ini akan melahirkan pendekatan yang berbeda pula.
Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. Salah satu kegiatan guru yang harus dilakukan adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode yang bagaimana akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran (Djamarah, 2002). Peranan sangat besar daalam perkembangan kreativitas seseorang, dan guru adalah seseorang yang karena kelebihannya dijadikan panutan atau model seseorang untuk belajar. Belajar untuk mengembangkan kreativitas tidak harus dilakukan secara berhadapan dalam setting formal melainkan melalui karya-karya orang terdahulu dalam bentuk karya tulis atau dalam bentuk karya kreatif yang lainnya, dan tidak sedikit orang – orang kreatif yang berguru kepada karya-karya pendahulunya tanpa mereka pernah bertemu. Dalam setting yang formal guru yang besar bukan semata-mata karena reputasi akademik atau keilmuannya saja, melainkan karena kearifannya dalam merangsang anak didiknya untuk mengembangkan diri. Guru adalah tokoh yang bermakna dalam kehidupan siswanya, ia lebih dari sekedar hanya pengajar melainkan pendidik dalam arti sesungguhnya dan kepada guru siswa melakukan proses identifikasi.Peluang untuk munculnya siswa yang kreatif akan lebih besar dari guru yang kreatif pula. Guru yang kreatif akan mengandung pengertian ganda, ia adalah guru yang secara kreatif mampu menggunakan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar dan membimbing siswanya. Guru yang demikian sangat mungkin untuk mengapresiasi, ekspresi kreativitas dan menjadi model identifikasi anak didiknya.
Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap guru memiliki tiga peran dalam proses belajar mengajar, yaitu peran sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator. (Dirjen Pendidikan Menengah Umum, 1999) .
Sebagai komunikator, dalam mengerjakan bahan-bahan ilmu pengetahuan guru mengalihkan ilmu pengetahuan, sikap dan ketrampilan kepada siswa serta membuat mereka mampu menyerap, menilai, dan mengembangkan secara mandiri ilmu yang dipelajarinya.
Sebagai motivator, guru menimbulkan minat dan semangat pada siswa secara terus menerus untuk mempelajari dan mendalami ilmunya. Guru terus berupaya untuk merangsang siswanya agar mau dan senang belajar.
Sebagai fasilitator, guru berupaya untuk mempermudah dan memperlancar proses belajar bagi siswanya.
Dalam memainkan peran sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator, guru dapat menggunakan berbagai macam teknik pendidikan dan pengajaran. Teknik pendidikan dan pengajaran yang efektif ialah jika guru menggunakan teknik-teknik yang berorientasi kepada siswa, yang bertitik tolak kepada kebutuhan siswa untuk terus dibina dan dikembangkan sesuai dengan tujuan pendidikan. Teknik-teknik kreatif merupakan hal yang sangat membantu guru dalam memainkan peranannya sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator.
Seperti yang pernah dijelaskan sebelumnya peran guru dalam membangkitkan dan meningkatkan kreativitas siswa dapat ditujukan dalam kegiatan tatap muka di sekolah. Kreativitas guru dalam memilih metode dan strategi mengajar yang kuat, pemilihan alat bantu atau media pembelajaran juga tidak kalah pentingnya untuk setiap pelajaran pokok bahasan yang diberikan. Selain itu perlu juga dikembangkan program belajar, model-model belajar, materi pelajaran dan sebagainya yang diperuntukkan bagi siswa yang cepat belajar, normal dan lambat belajar.
Dalam pelaksanaan belajar mengajar pengaturan tempat duduk merupakan hal yang dapat dilakukan oleh guru agar terjadi interaksi antar siswa, hal tersebut membantu siswa dapat mengenal siswa lainnya atau untuk mengatasi hal-hal yang mungkin terjadi dalam diri siswa. Selanjutnya kreativitas guru dalam hal memotivasi siswa belajar sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa.
3. Bagi Siswa
Sekolah membina para siswa agar memiliki mental yang sehat dan menghindarkan mereka dari gangguan mental. Anak-anak yang berbakat kreatif memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang secara sehat apabila mendapatkan bantuan yang tepat dari guru mata pelajaran dan guru bimbingan. Dipihak lain potensi kreatif mereka yang menonjol dapat menimbulkan akibat yang kurang menyenangkan bagi diri yang bersangkutan serta lingkungannya jika perkembangannya tidak mendapat bimbingan secara wajar.
Menurut Piaget dimulai pada usia sekitar 11 – 12 tahun dan seterusnya merupakan tahap perkembangan kognitif pada fase keempat yang disebut tahap operasi formal. (Dirjen Pendidikan Menengah, 1999) Pada masa ini anak mampu mempertimbangkan semua kemungkinan dalam memecahkan masalah dan mampu untuk menalar atas dasar hipotesis dan dalil. Akibatnya mereka dapat meninjau masalah dari berbagai segi pandangan dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor saat memecahkan masalah. Pemikiran anak menjadi luwes dan konkrit serta telah mampu menggabungkan informasi dari sejumlah sumber yang berbeda. Anak telah sanggup mewujudkan satu keseluruhan dalam pekerjaannya yang memiliki hasil dan ditandai berfikir logis, demikian pula perasaan (segi afektif) mendukung penyelesaian tugas karena segi moral juga telah mencapai kematangan.
Menurut Gowan dan Erickson pola berfikirnya seseorang yang bersifat konvergen tidak memiliki pola yang mampu melintasi berbagai situasi yang tidak searah.(Dirjen Pendidikan Menengah Umum, 1999) Pada saat ini peranan guru pembina dalam memberikan soal-soal yang berbentuk pemecahan masalah sangat diperlukan untuk mengembangkan kreativitas. Dalam pemecahan masalah ini hendaknya guru tidak memfokuskan satu pemecahan masalah saja, tetapi para siswa diminta untuk memecahkan masalah dengan berbagai cara.
C. Kesimpulan
Kreativitas merupakan sesuatu yang amat berarti bagi seseorang, lebih-lebih pada diri siswa kreativitas menunjuk kepada pemebentukan ide-ide baru, inovasi adalah untuk menghasilkan sesuatu yang berguna dengan menggunakan ide-ide baru tersebut. Kreativitas merupakan titik permulaan bagi setiap inovasi, dan inovasi adalah merupakan kerja keras yang mengikuti pembentukan ide dan biasanya melibatkan usaha banyak orang dengan keahlian yang bervariasi yang saling melengkapi.
Dari kreativitas akan lahir berbagai ide, namun suatu ide tidak akan menjadi karya atau tidak terwujud bila tidak dibimbing, direkam , dijabarkan, diformulasikan, direncanakan, diprogram dan dilaksanakan. Dari serentetan aktivitas ini mutlak memerlukan suatu peran dari seluruh tenaga pendidik dalam suatu komponen.
Orang yang memiliki daya inisiatif dan kreatif tinggi selalu menang merebut setiap kesempatan atau peluang yang ada, sehingga merekalah umumnya yang sukses dalam berbagai bidang. Mereka umumnya adalah orang yang tanggap pada setiap perubahan jaman, sigap, dan cekatan, mengadakan tindakan, rajin belajar, bekerja keras serta memiliki mental persaingan yang tinggi, kiranya pemberian bimbingan kepada siswa dalam mengembangkan kreativitasnya sesuai dengan peran, tugas serta fungsi dari masing-masing komponen yang berada di sekolah sangat diperlukan.
A. Pemahaman Kreativitas
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini dan dimasa yang akan datang sangat dibutuhkan sumber daya manusia terdidik, terampil, tangguh, dinamis, dan kreatif serta mampu berfikir kritis dalam menghadapi suatu persoalan. Setiap individu perlu dan selalu meningkatkan kemampuan ketrampilan baik hal yang formal maupun yang nonformal agar tidak kalah bersaing dalam masyarakat yang semakin komplek sifatnya.
Kekayaan bangsa kita hasil dari kualitas otak penduduknya, kreativitas dan ketrampilannya. Aset terbaik adalah kemampuan kolektif kita untuk belajar cepat dan beradaptasi secara cerdas terhadap situasi yang tidak bisa diramalkan. Dalam kontek dunia pendidikan yang perlu menjadi prioritas utama kita adalah mengajar siswa bagaimana cara belajar dan bagaimana berfikir.
Belajar bukan hanya mengetahui jawaban-jawaban , juga bukan hanya mengetahui serpihan dan penggalan dari suatu batang tubuh pengetahuan . Belajar tidak diukur dengan dengan indek prestasi dan nilai ujian semata, belajar bukan hanya aktifitas menulis di atas papan tulis apa yang diketahui orang lain. Belajar adalah petualangan seumur hidup, perjalanan eksplorasi tanpa akhir untuk menciptakan pemahaman personal kita sendiri . Petualangan itu haruslah melibatkan kemampuan untuk secara terus menerus menganalisis dan meningkatkan cara belajar serta berfikir (Rose : 2003)
Inovasi terwujud adanya kreativitas yang tinggi, dan kreativitas bukan hanya merupakan kemampuan untuk membawa sesuatu yang relatif baru dalam kehidupan tetapi juga harus memiliki peran penting. Seseorang harus menemukan jati diri, berbagai gagasan atau ide juga perlu ditemukan jika ingin menghasilkan sesuatu yang diinginkan, dan semua itu hanya mungkin jika otak sebagai markas besar daya pikir yang menghasilkan ide untuk kreatif benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Anak didik adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah, orang tuanya yang memasukkan untuk dididik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan dikemudian hari. Anak didik adalah organisme yang hidup memiliki suatu kebutuhan , minat kemampuan , intelek, kreativitas, dan masalah-masalah tertentu. Kepercayaan orang tua diterima guru dengan kesadaran dan penuh keikhlasan, maka jadilah guru sebagai pengemban tanggungjawab yang diserahkan itu (Djamarah : 2002)
Di sekolah kita harus menjamin agar siswa mampu belajar secara mandiri sehingga mereka bisa memanfaatkan peluang-peluang yang memikat dari alat-alat bantu belajar interaktif yang baru.Kendati demikian mereka juga harus bisa bekerja secara bersama untuk mengatasi berbagai masalah , seperti masalah-masalah masyarakat yang nyata, yang melibatkan kepentingan mereka karena ada relevansinya dengan kehidupan mereka. Dengan cara yang demikian para siswa dapat mengembangkan ketrampilan dasar mereka dan sekaligus belajar mengembangkan ketrampilan berfikir kreatif dan kritis.
Siswa atau anak-anak biasanya lebih kreatif dari pada orang dewasa, pikirannya masih mencari dan menemukan pola-pola perilaku, serta label mereka belum cukup kuat untuk membatasi cara berfikirnya. Seperti pandangan John Looke bahwa jiwa anak bagaikan tabula rasa, sebuah meja lilin yang dapat ditulis dengan apa saja sebagaimana keinginan si pendidik. Tidak ada bedanya dengan sehelai kertas putih yang dapat ditulis dengan tinta merah, hitam dan sebagainya. Sayangnya penekanan yang berlebihan pada satu jawaban benar di sekolah umumnya mulai membatasi kreativitas itu, maka jika paradigma yang muncul demikian tentu ada implikasinya. Yang mendesak dan penting adalah kita perlu serta hurus melakukan perubahan, kita harus membantu siswa menciptakan suatu lingkungan yang kaya merangsang dan memotivasi pikiran kreatif. Upaya untuk menggalakkan kreatif siswa terus dan perlu dilakukan seperti terlihat dari aneka lomba khususnya yang ada di kalangan pemuda untuk meningkatkan apresiasi yang berkelanjutan pada pemahaman kreativitas. Oleh karena itu dirasakan perlu pula dikembangkan tidak hanya dikalangan para siswa tetapi juga untuk kalangan para tenaga pendidikan.
B. Berfikir Kreatif
Kita dapat merencanakan diri sebagai seorang yang kreatif, namun menjadi kreatif tidak hanya bisa dengan berpangku tangan menunggu ilham yang datang dan hal ini selalu menuntut banyak usaha keras dan mensyaratkan persiapan matang. Tentu saja motivasi sangat membantu, memperoleh pengetahuan latar belakang yang terinci tentang subyek yang dipelajari adalah kunci kreativitas karena hampir semua gagasan baru adalah kombinasi ulang berpikir dari ide-ide yang ada. Orang yang kreatif selalu lebih banyak mengetahui tentang subyeknya, suatu inspirasi akan muncul dari latar belakang pengetahuan yang ahli dan akan berpihak pada pikiran yang siap.
Dengan belajar dari orang berfikiran kreatif yang sukses kita kemungkinan dapat melacak dan menjejaki pola umum sikap dan metode kerja mereka. (Rose, 2003 ) Suatu kreativitas juga menuntut keberanian, jika kita mau melepaskan diri dari cara berpikir konvensional maka kita beresiko dan kita harus berani menghadapi resiko kegagalan, kecaman dan kritik dari orang lain. Sangatlah susah melepaskan diri kita dari berpikir konvensional, karena kita perlu menjadi seorang pilot otomatis hampir setiap saat. Hidup menjadi terlalu sulit jika setiap hari kita harus menyegarkan kembali ketrampilan bagaimana untuk mencukur, berpakaian, menyiapkan makan pagi dan bekerja. Pikiran memberi label aktivitas-aktivitas rutin menempatkan setiap kejadian yang sama kedalam kategori yang sama pula, sehingga bila label tersebut sekali telah disematkan maka pemikiran menjadi kaku dan konvensional.
Menurut Sternberg (Rose, 2003 ) mengenai kreativitas ada tiga tahapan, yaitu:
- Pengertian, kita berfikir mendefinisikan masalah dengan seksama dan memisahkan data yang relevan dari yang tidak relevan, mana petunjuk penting dan mana yang tidak.
- Kombinasi, kita berfikir untuk mengkombinasikan kembali ide-ide dalam suatu cara yang baru, semua informasi diketahui lama terlebih dahulu. Kepiawaian adalah mensintesiskan ke dalam konsep yang baru, cara baru menggabungkan dan memadukan ide-ide lama.
- Membandingkan yang lama dengan yang baru, kita tidak akan melihat nilai dari gagasan baru jika kita tidak membandingkannya dengan yang lama. Ini memakan waktu untuk menuntut kesabaran, jadi menjadi seorang yang kreatif membutuhkan ketekunan.
Treffinger membagi empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting bagi kehidupan seseorang :
- Belajar kreatif membantu seseorang atau siswa menjadi lebih berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dari upaya kita uintuk membantu para siswa agar mereka lebih mampu menangani dan mengarahkan belajar bagi dirinya sendiri. Dengan pesatnya perubahan ilmu pengatahuan dan teknologi kita tidak mungkin mengajarkan siswa sesuatu yang harus mereka tahu untuk hari depan mereka, dan kitapun tidak hanya mengajarkan agar siswa dapat mengulang kembali ide-ide. Kita mengharap para siswa dapat belajar hal-hal yang berguna dan bermanfaat bagi dirinya sehingg mereka mampu dan siap menghadapi masalah-masalah pada waktu kita tidak bersama mereka.
- Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan. Dan yang timbul dimasa depan. Masa yang kita hadapi era sembilan puluhan berbeda dengan era milenium seperti sekarang dan pada era selanjutnya.
- Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehidupan kita. Banyak pengalaman yang salah tentang orang-orang yang amat kreatif, mereka dikenal sebagai orang yang pikirannya terganggu, bahkan merubah karer dan kehidupan pribadi kita. Padahal belajar kreatif dapat menunjang kesehatan jiwa dan kesehatan raga kita.
- Belajar kreatif menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar . Terdapat gambaran yang salah tentang orang-orang yang amat kreatif, mereka dikenal sebagai orang yang terganggu pikirannya, hidup menyendiri, tidak bisa bergaul dan tidak bisa menangani tekanan hidup. Gambaran semacam ini dapat pula kita temukan pada orang-orang yang tidak kreatif , padahal banyak orang kreatif menjadi terkenal, penuh semangat dan bahagia. Semangat mereka terhadap pekerjaannya serta terhadap gagasan-gagasannya dapat langsung kita saksikan, dan kesenangan mereka terhadap belajar kreatif dapat menular kepada kita.
C. Strategi Peningkatan Kreatifitas Siswa.
1.Bagi Kepala Sekolah.
Proses pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekembangan kreatifitas. Meskipun bukan satu-satunya penentu lahirnya orang-orang yang kreatif, pendidikan merupakan faktor yang sangat penting sekali peranannya. Inti dari proses pendidikan itu adalah proses belajar yang melibatkan guru dan siswa, baik dalam setting persekolahan maupun di luar sekolah.
Komponen kepala sekolah sebagai EMASLIM yaitu sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, inovator, motivator (Mulyasa:2005) di sekolah merupakan faktor-faktor yang terkait dengan kreativitas kepala sekolah dalam memgelola sekolah yang menjadi tanggungjawabnya. Sebagai seorang educator atau pendidik, harus memiliki jiwa pendidik untuk merubah perilaku anak didik secara manusiawi. Mengubah perilaku siswa menjadi siswa yang disiplin, memilki kemauan belajar dan berkembang hidup dalam keteraturan. Selain itu kepala sekolah sebagai pendidik harus bisa menumbuhkan kewibawaan sehingga siswa menghormati, dan menjadikan sebagai panutan sekaligus tak lupa bagaimana meningkatkan prestasi atau mutu anak didik.
Sebagai seorang manager, kepala sekolah harus mampu mengelola sumber daya manusia yang ada dan berusaha agar mereka berperan dalam program sekolah dan tidak sibuk dengan aktivitas yang lain. Sistem harus berjalan dengan baik seperti yang telah direncanakan, dalam hal ini harus mampu mendelagasikan tugas sesuai dengan visi dan misi yang tertuang dalam progaram perencanaan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
Sebagai ’administrator’ seorang kepala sekolah harus mampu mengadministrasikan keperluan sekolah dengan menggunakan sumber daya yang ada untuk keberhasilan program sekolah, serta dapat menterjemahkan program sekolah menjadi langkah-langkah bersifat operasional yang akan memproduksi hasil.
Kepala Sekolah dituntut untuk menjadi ’supervisor’ yaitu menjadi pembimbing, pengawas bagi guru, dan pegawai lainnya. Hal ini berarti kepala sekolah menjadi tempat bertanya bagi semua komponen sekolah, dapat membimbing guru dalam proses belajar mengajar tanpa menjadikan guru merasa digurui.
Sebagai ’leader’ harus berusaha mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok morang untuk mencapai keberhasilan. Selain itu harus dapat sebagai mediator antar kelompok sekolah, mampu mengidentifikasi permasalahan yang ada dan mencari pemecahannya serta mengakomodasikan aspirasi dari masing-masing komponen sekolah.
Kepala sekolah yang memiliki kemampuan sebagi ’inovator’ adalah kepala sekolah yang selalu mencari dan menemukan temuan-temuan baru, terobosan baru, atau metode-metode baru yang bermanfaat bagi peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu kepala sekolah harus memiliki kreativitas dan keinginan untuk mempelajari atau mengikuti perkembanmgan pengetahuan dan teknologi.
Kepala sekolah yang mampu menjadi ’motivator’ beratri ia dapat menggugah guru untuk selalu meningkatkan kualitas profesinya, dan memanfaatkan sumber daya yang ada dengan potensinya. Mampu menumbuhkan situasi yang mendukung keinginan untuk berprestasi, mengembangkan diri secara profesional, menciptakan sistem penghargaan dan hukuman yang menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Hal-hal tersebut dipercaya dapat menimbulkan akibat positif terhadap kepuasan kerja, yang sering menyebabkan peningkatan produktivitas seseorang secara keseluruhan. Kesempatan ini menuntut kreativitas yang tinggi dari kepala sekolah, jika sekolah itu akan berkembang menjadi sekolah yang baik.
2. Bagi Guru
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan pada anak didik di sekolah, dan guru orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya serta keilmuan yang dimilikinya dan dia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang pandai, cerdas. Guru mengenal murid-muridnya dengan maksud agar guru dapat membantu pertumbuhan dan perkembangannya secara efektif. Adalah penting sekali mengenal dan memahami siswa dengan seksama, agar dapat menentukan dengan seksama bahan-bahan yang akan diberikan dan menggunakan prosedur yang sesuai (Hamalik, 2004). Pandangan guru terhadap anak didik akan mempengaruhi kegiatan mengajar di kelas. Guru yang memandang anak didik sebagai mahkluk individual dengan segala perbedaan dan persamaannya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didiknya sebagai mahkluk sosial. Perbedaan pandangan dalam memandang anak didik ini akan melahirkan pendekatan yang berbeda pula.
Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. Salah satu kegiatan guru yang harus dilakukan adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode yang bagaimana akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran (Djamarah, 2002). Peranan sangat besar daalam perkembangan kreativitas seseorang, dan guru adalah seseorang yang karena kelebihannya dijadikan panutan atau model seseorang untuk belajar. Belajar untuk mengembangkan kreativitas tidak harus dilakukan secara berhadapan dalam setting formal melainkan melalui karya-karya orang terdahulu dalam bentuk karya tulis atau dalam bentuk karya kreatif yang lainnya, dan tidak sedikit orang – orang kreatif yang berguru kepada karya-karya pendahulunya tanpa mereka pernah bertemu. Dalam setting yang formal guru yang besar bukan semata-mata karena reputasi akademik atau keilmuannya saja, melainkan karena kearifannya dalam merangsang anak didiknya untuk mengembangkan diri. Guru adalah tokoh yang bermakna dalam kehidupan siswanya, ia lebih dari sekedar hanya pengajar melainkan pendidik dalam arti sesungguhnya dan kepada guru siswa melakukan proses identifikasi.Peluang untuk munculnya siswa yang kreatif akan lebih besar dari guru yang kreatif pula. Guru yang kreatif akan mengandung pengertian ganda, ia adalah guru yang secara kreatif mampu menggunakan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar dan membimbing siswanya. Guru yang demikian sangat mungkin untuk mengapresiasi, ekspresi kreativitas dan menjadi model identifikasi anak didiknya.
Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap guru memiliki tiga peran dalam proses belajar mengajar, yaitu peran sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator. (Dirjen Pendidikan Menengah Umum, 1999) .
Sebagai komunikator, dalam mengerjakan bahan-bahan ilmu pengetahuan guru mengalihkan ilmu pengetahuan, sikap dan ketrampilan kepada siswa serta membuat mereka mampu menyerap, menilai, dan mengembangkan secara mandiri ilmu yang dipelajarinya.
Sebagai motivator, guru menimbulkan minat dan semangat pada siswa secara terus menerus untuk mempelajari dan mendalami ilmunya. Guru terus berupaya untuk merangsang siswanya agar mau dan senang belajar.
Sebagai fasilitator, guru berupaya untuk mempermudah dan memperlancar proses belajar bagi siswanya.
Dalam memainkan peran sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator, guru dapat menggunakan berbagai macam teknik pendidikan dan pengajaran. Teknik pendidikan dan pengajaran yang efektif ialah jika guru menggunakan teknik-teknik yang berorientasi kepada siswa, yang bertitik tolak kepada kebutuhan siswa untuk terus dibina dan dikembangkan sesuai dengan tujuan pendidikan. Teknik-teknik kreatif merupakan hal yang sangat membantu guru dalam memainkan peranannya sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator.
Seperti yang pernah dijelaskan sebelumnya peran guru dalam membangkitkan dan meningkatkan kreativitas siswa dapat ditujukan dalam kegiatan tatap muka di sekolah. Kreativitas guru dalam memilih metode dan strategi mengajar yang kuat, pemilihan alat bantu atau media pembelajaran juga tidak kalah pentingnya untuk setiap pelajaran pokok bahasan yang diberikan. Selain itu perlu juga dikembangkan program belajar, model-model belajar, materi pelajaran dan sebagainya yang diperuntukkan bagi siswa yang cepat belajar, normal dan lambat belajar.
Dalam pelaksanaan belajar mengajar pengaturan tempat duduk merupakan hal yang dapat dilakukan oleh guru agar terjadi interaksi antar siswa, hal tersebut membantu siswa dapat mengenal siswa lainnya atau untuk mengatasi hal-hal yang mungkin terjadi dalam diri siswa. Selanjutnya kreativitas guru dalam hal memotivasi siswa belajar sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa.
3. Bagi Siswa
Sekolah membina para siswa agar memiliki mental yang sehat dan menghindarkan mereka dari gangguan mental. Anak-anak yang berbakat kreatif memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang secara sehat apabila mendapatkan bantuan yang tepat dari guru mata pelajaran dan guru bimbingan. Dipihak lain potensi kreatif mereka yang menonjol dapat menimbulkan akibat yang kurang menyenangkan bagi diri yang bersangkutan serta lingkungannya jika perkembangannya tidak mendapat bimbingan secara wajar.
Menurut Piaget dimulai pada usia sekitar 11 – 12 tahun dan seterusnya merupakan tahap perkembangan kognitif pada fase keempat yang disebut tahap operasi formal. (Dirjen Pendidikan Menengah, 1999) Pada masa ini anak mampu mempertimbangkan semua kemungkinan dalam memecahkan masalah dan mampu untuk menalar atas dasar hipotesis dan dalil. Akibatnya mereka dapat meninjau masalah dari berbagai segi pandangan dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor saat memecahkan masalah. Pemikiran anak menjadi luwes dan konkrit serta telah mampu menggabungkan informasi dari sejumlah sumber yang berbeda. Anak telah sanggup mewujudkan satu keseluruhan dalam pekerjaannya yang memiliki hasil dan ditandai berfikir logis, demikian pula perasaan (segi afektif) mendukung penyelesaian tugas karena segi moral juga telah mencapai kematangan.
Menurut Gowan dan Erickson pola berfikirnya seseorang yang bersifat konvergen tidak memiliki pola yang mampu melintasi berbagai situasi yang tidak searah.(Dirjen Pendidikan Menengah Umum, 1999) Pada saat ini peranan guru pembina dalam memberikan soal-soal yang berbentuk pemecahan masalah sangat diperlukan untuk mengembangkan kreativitas. Dalam pemecahan masalah ini hendaknya guru tidak memfokuskan satu pemecahan masalah saja, tetapi para siswa diminta untuk memecahkan masalah dengan berbagai cara.
C. Kesimpulan
Kreativitas merupakan sesuatu yang amat berarti bagi seseorang, lebih-lebih pada diri siswa kreativitas menunjuk kepada pemebentukan ide-ide baru, inovasi adalah untuk menghasilkan sesuatu yang berguna dengan menggunakan ide-ide baru tersebut. Kreativitas merupakan titik permulaan bagi setiap inovasi, dan inovasi adalah merupakan kerja keras yang mengikuti pembentukan ide dan biasanya melibatkan usaha banyak orang dengan keahlian yang bervariasi yang saling melengkapi.
Dari kreativitas akan lahir berbagai ide, namun suatu ide tidak akan menjadi karya atau tidak terwujud bila tidak dibimbing, direkam , dijabarkan, diformulasikan, direncanakan, diprogram dan dilaksanakan. Dari serentetan aktivitas ini mutlak memerlukan suatu peran dari seluruh tenaga pendidik dalam suatu komponen.
Orang yang memiliki daya inisiatif dan kreatif tinggi selalu menang merebut setiap kesempatan atau peluang yang ada, sehingga merekalah umumnya yang sukses dalam berbagai bidang. Mereka umumnya adalah orang yang tanggap pada setiap perubahan jaman, sigap, dan cekatan, mengadakan tindakan, rajin belajar, bekerja keras serta memiliki mental persaingan yang tinggi, kiranya pemberian bimbingan kepada siswa dalam mengembangkan kreativitasnya sesuai dengan peran, tugas serta fungsi dari masing-masing komponen yang berada di sekolah sangat diperlukan.






















